Masuk

Ingat Saya

Pesantren Tradisional; Model Pendidikan Kebinikaan di Inodensia

Pesantran memainkan peran yang besar dalam membangun peradaban Indonesia. Sebagai salah satu model pendidikan tertua, alumni pesantren memiliki peran dan kontribusi yang sangat besar dalam mendorong kemajuan negeri ini. Dengan segala dinamika di dalamnya, pesantren mampu eksis sampai saat ini dan tetap memainkan peranan yang signifikan. Ini sebuah keniscayaan kerena mayoritas penduduk Indonesia beragama Islam. Pesantren dengana basis pendekatan agama dan kultural serta local wisdom sangat sesuai dengan watak bangsa ini yang menghendaki kebersamaan, kerukunan dan saling tolong menolong.

Secara teoiris, kebersamaan, kerukunan dan saling tolong menolong dalam bingkai peradaban negara tentu bukan hal baru terdengar. Cita-cita agung  para pendiri negara kesatuan ini adalah untuk mewujudkan negara yang berketuhanan, berkeadilan dan menjunjung tinggi nilai kemanusiaan. Komitmen mereka tersebut dituangkan dalam Pancasila sebagai landasan filosofis. Namun, sering bergulirnya waktu, cita-cita tersebut dalam diri generasi penerus sedikit demi sedikit semakin luntur. Orng tidak terlalu peduli dengan persoalan kemanusian. Orang tidak terlau respek dengan urusan orang lain. Tidak sedikit, salah seorang diantara kita membiarkan dan tidak peduli terhadap oarng lain yang sedang membutuhkan pertolongan. Gaya hidup individualistis masyarakat  semakin menunjukkan peningkatan yang cukup tajam.

Membiarkan realitas sosial yang semikin mengalami pembiasan dari nilai-nilai ke-Indonesia-an merupakan bagian dari pengkhianatan kita terhadap para pendidiri negara ini yang telah berusaha memperjuangkan kemerdekaan. Sebagai generasi penerus, sepatutnya kita melakukan suatu hal sekecil apapun untuk memupuk nilai-nilai terpuji seperti yang dicontohkan oleh para tokoh-tohoh nasional. Di tengah arus globalisasi dan pertarungan bangsa-bangsa dalam meraih prestasi dan kedaulatan ekonomi, pertahanan dan pangan, kita harus menjaga ritme untuk senantiasa menjaga moral dan sikap yang didasari budaya dan adat Indonseia.  Bangsa ini perlu menyadari bahwa negara ini adalah negara yang menjunjunga tinggi norma dan moral. Untuk itu, setiap warga sangat tidak terpuji apalagi meninggalkan nilai luhur tersebut dengan alasan apapun.

Pesantren meskipun sifatnya non formal mampu sejak dahulu menawarkan konsep dan aplikasi pendidikan yang berbasis pada kebutuhan masyarakat. Pendidikan pesantren dengan pendekatan daily based learning mendorong para santri untuk mengembangkan life skill disamping materi-materi pelajaran inti. Kurikulum dipesantren bepusat pada kajian tentang agama normatif meliputi kajian teks-teks klasik. Para santri mendapatkan pendidikan untuk memahami agama dengan mengkaji primery resource. Mereka mendapatkan pembelajaran dengan cara mebedah langsung literatur-literatur yang original bukan terjemahan. Ini brang kali kurikulum pesantren yang menyebabkan para santri sangat kuat dalam kajian literatur terutama literatur bebahsa arab.

Pesantren sebagai lembaga pendidikan yang menerapkan boarding (asrama) menuntuk peseta didik untuk tinggal di lingkungan pesatren selama 24 jam.  Praktik pendidikan seperti ini memang bukan yang terbaik, di sana–sini terdapat beberapa kelemahan seperti sanitasi. Namun terlepas dari itu, pesentren dapat dijadikan alternatif apaligi disaat negara ini mengalami berbagai persoalan dalam berbagai hal. Dampak langsung dari diwajibkanyya peserta didik tinggal dipesantren, seluruh santri tinggal bersama dalam lingkungan yang padat. Mereka dari berbagai latar belakang ekonomi dan sosial berumpul dalam satu komunitas yang sama. Sederhananya hehidupan pesantren adalah miniatur kehidupan bermasyakat (hidden curriculum).

Kehdiupan pesantren ditinjau dari pilar pendidikan yang dirumuskan oleh Unesco adalah leaning to be dan learning together yang paling dominan dari sisi hidden curriculum. Santri belajar secara mandiri untuk merencanakan dan menyiapkan  masa depan mereka. Mereka hidup mandiri layaknya orang dewasa tanpa bantuan orang tua. Segala aktivitas mereka di pesantren diselasaikan sendiri dan setiap perbuatannya menjadi tangung jawab sendiri. Pembelajaran ini jarang dijumapai di institusi pendidikan lain di negeri ini. Anak-anak yang pernah mengenyam pendidikan di lembaga pendidikan ini kebanyakan memiliki daya surivive dan daya juang yang lebih tinggi. Dengan berada di pesantren, memenuhi kebutuhan hidupanya sendiri seperti mencuci dan merapikan tempat tidur adalah pembelajaran real yang membangun kesadaran kemandirian dan siap menatap masa depan dengan realistik.

Hal yang tidak kalah menarik, pesantren merupakan tempat untuk balajar bermasyarakat. Disini mereka dituntuk membangung kecerdasan sosial. Dengan berbagai latar belakang, mereka harus dapat menghargai perbedaan dan fokus pada tujuan. Mereka tidak menuntut keseragaman pandangan dan prilaku. Semua anggota masyarak saling menghargai dan saling belajar bagaimana hidup bersama yang ideal. Seperti kehidupan di dunia sosial yang nyata, di dunia pesantren ada yang rajin, ada yang malas ada yang  baik dan ada juga yang tidak baik. Berbagai tipologi manusia dijumpai di pesantren dan itu tidak menjadi persoalan selama tidak mengganngu kenyamaan orang lain. Mereka fokus untuk mengejar masa depan yang lebih dengan melakukan hal terbaik sesuai kapasitas masing.

shulhan87
Dengan